Dalam beberapa waktu terakhir dikabarkan bahwa hubungan
Korea Utara dan Korea Selatan memanas akibat konflik yang baru-baru ini
terjadi. Ada yang bahkan menduga bahwa perang dunia ketiga akan segera
terjadi karena masing-masing kubu Korea punya pihak “di belakang layar”
yang saling memberi dorongan. Ada Amerika Serikat dan sekutu di belakang
Korea Selatan dan Cina serta negara anti-AS lainnya di belakang Korea
Utara. Sebenarnya apa yang membuat hubungan kedua negara yang terpecah
tersebut menjadi memanas di pertengahan tahun 2013 ini
Awalnya, Korea Utara di bawah pemimpin baru Kim Jong-un
memang memulai konflik dengan memprovokasi negara tetangga tersebut.
Provokasi yang dilakukan merupakan serangan artileri ke Korea Selatan
yang pada akhirnya membuat suasana di kawasan tersebut kembali tegang
secara mendadak.
Sekitar pukul 15.00 waktu Korea, atau 13.00 WIB, Korea
Utara tiba-tiba menembakkan artileri ke arah Pulau Yeonpyeong, Korea
Selatan. Tak lama kemudian, saksi mata melihat bangunan-bangunan di
pulau itu terkena serangan bombardir.
Api kemudian langsung membara. Saksi mata mengatakan
60-70 rumah di Yeonpyeong terbakar akibat serangan artileri tersebut.
Hal ini yang menimbulkan respon panas dari Korea Selatan. Persiapan
dilakukan, yang termasuk di dalamnya adalah wajib militer, guna
mempersiapkan diri dalam kemungkinan terjadinya perang di antara kedua
belah pihak. Korea Selatan bahkan menggandeng Amerika Serikat untuk
berlatih militer.
Sekitar 10 menit kemudian setelah tembakan artileri di
pulau Yeonpyeong tersebut, Korea Selatan langsung membalas serangan
artileri terhadap tetangganya. Kedua pihak saling balas bombardir.
Sementara saksi mata mengatakan warga Yeonpyeong dievakuasi ke dalam
bungker.
Artileri Korea Utara pun berhasil melumpuhkan sumber
tenaga listrik di Pulau Yeonpyeong serta dua warga dilaporkan terluka.
Asap mulai mengepul tinggi dari rumah-rumah warga. Pihak militer Korea
Selatan langsung menyatakan status siaga tinggi.
Kebakaran yang terjadi pun semakin meluas di Pulau
Yeonpyeong. Beberapa rumah runtuh setelah terbakar hebat. Jet tempur
Korea Selatan langsung diterbangkan ke lokasi tembakan artileri
tersebut. Diperkirakan sudah sekitar 200 peluru artileri menghantam
pulau itu.
Pemerintah Korea Selatan langsung menggelar rapat
mendadak. Mereka mengatakan akan mengambil tindakan tegas jika Korea
Utara melanjutkan provokasi. Di sisi lain, Presiden Korea Selatan, Lee
Myung-bak, menyerukan upaya untuk meredam aksi saling tembak.
Satu jam berlalu atau sekitar pukul 16.00 waktu Korea,
pihak Korea Selatan menyerukan penghentian aksi saling bombardir. Warga
Pulau Yeonpyeong mulau diungsikan ke luar pulau dengan perahu nelayan.
Perang bombardir berhenti. Militer Korea Selatan mengumumkan satu tentara tewas, 13 luka-luka termasuk 3 orang luka berat.
Korea Utara dan Korea Selatan pernah berperang pada
1950-1953. Konflik bersenjata itu berakhir lewat gencatan senjata dan
bukan perjanjian damai. Pyongyang awal bulan ini menegaskan gencatan
senjata itu sudah tidak berlaku lagi. Situasi di Semenanjung Korea kerap
memanas setelah pihak Barat menuding Korea Utara mengembangkan senjata
nuklir.
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar